KERAJAAN KALINGGA: Letak, Sejarah, Silsilah, & Peninggalan Kerajaan Holing

Ho Ling merupakan sebuah sebutan lain dari Kerajaan Kalingga, berdasarkan dari catatan dari Tiongkok, kerajaan ini diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke-6 Masehi. Wilayah kekuasaan kerajaan kalingga meliputi wilayah di Jawa Tengah, antara Jepara dan Pekalongan. Kalingga juga dianggap sebagai nenek moyang Kerajaan Mataram Kuno.

Kerajaan Kalingga dikenal dengan nama kerajaan Holing yang letaknya berada di Jawa Tengah, nama Kalingga bukan berasal dari nusantara.

Kalingga berasal dari sebuah kerajaan di India bagian selatan, walau di nusantara letaknya berada di sebelah utara dari Gunung Muria, yaitu tepatnya di Kabupaten Jepara, kerajaan ini didirikan pada abad ke-6. Kerajaan ini didirikan oleh orang pelarian dari India setelah kerajaan di negaranya dihancurkan, dan masyarakatnya menganut agama Hindu dan Budha.

Sementara nama Holing berasal dari bahasa Tiongkok. Hal ini yang berpengaruh pada bahasa yang dipakai sehari-hari, bahasa Tiongkok yang dipakai oleh masyarakat di tempat tersebut. Lebih jelasnya simak bahasan kerajaan kalingga: letak, sejarah, silsilah, & peninggalan kerajaan holing berikut.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Kalingga

Sejarah kerajaan diketahui dari sumber catatan sejarah manuskrip, prasasti, cerita rakyat setempat, dan kronik sejarah Tiongkok.

Ratu Shima adalah sebagai ratu yang memimpin Kerajaan Kalingga.

Catatan dari Tiongkok menjelaskan jika sejak 674 hingga 732 Masehi, rakyat Kalingga diperintah oleh Ratu Shima.

Ratu ini dikenal sangat adil dan bijaksana, karena itu kondisi kerajaan ini sangat tentram dan aman.

Hukum yang ditegakkan tanpa pandang bulu, seperti akan memotong tangan seseorang yang terbukti sudah mencuri.

Rakyatnya dikenal begitu pandai dalam membuat bunga kelapa dan minuman keras, Komoditi kerajaan ini adalah gading gajah, cula badak, kulit penyu, perak dan emas.

Baca juga: KERAJAAN MATARAM: Letak, Sejarah, Silsilah, & Peninggalan Kerajaan Mataram

Kerajaan Kalingga (Holing)

Letak kerajaan Kalingga di sebelah utara Gunung Muria, yang ada di kabupaten Jepara dan juga dinamakan dengan Holing.

Penamaan holing ini berasal dari bahasa Tiongkok atau China, karena banyaknya pendeta yang datang ke nusantara di saat itu.

Dan menariknya berdirinya kerajaan ini tidak ditemukan secara rinci dan diketahui secara utuh.

Walau hal ini disebut memiliki hubungan dengan Ratu Shima dengan kerajaan Galuh, terkenalnya Ratu Shima di tanah Jawa yang adil namun sangat keras.

Cerita menarik terkait Ratu Shima yang hampir membunuh anak kandungnya sendiri, hal itu dikarenakan berani menyentuh sekantong emas yang dimiliki oleh sang Ratu Shima.

Walau anaknya terselamatkan setelah dewan menteri kerajaan di saat itu meminta agar diberi keringanan atas anaknya itu.

Sampai sang anak kemudian dijatuhi hukuman potong kaki, padahal itu anaknya sendiri dan hanya karena menyentuh sekantong emas.

Walau begitu sosok Shima dalam hal ini menjadi panutan masyarakatnya karena keadilan yang ia miliki.

Ratu Shima dikenal tidak pandang bulu dan mengedepankan akal ketimbang perasaan, berusaha adil walau yang melanggar hukum atau peraturan yaitu keluarganya sendiri.

Pendiri kerajaan Kalingga yaitu Dapunta Syailendra yang berasal dari dinasti Syailendra. Nama Kalingga dan juga sebagai penanda bahwa kerajaan ini sangat dekat dengan China dan India.

Hal ini terungkap berdasarkan catatan dalam prasasti Sojomerto, sementara para keturunan Syailendra menjadi cikal bakal lahirnya kerajaan Mataram Kuno yang berdiri pada abad ke-8 masehi.

Sumber sejarah kerajaan Kalingga yaitu berita Tiongkok Dinasti Tang, sumber lainnya dari sebuah prasasti Tuk Mas yang berada di lereng Gunung Merbabu.

Baca juga: KERAJAAN TARUMANEGARA: Letak, Sejarah, Silsilah, & Peninggalan Kerajaan

Letak Dan Wilayah Kekuasaan Kerajaan Kalingga

Dari catatan Tiongkok juga diungkapkan jika letak dan wilayah kekuasaan Kerajaan Kalingga kemungkinan berada di kawasan Pekalongan dan Jepara saat ini.

Ibukotanya dikelilingi tembok yang dibangun dari tonggak kayu, dimana sang raja mendiami bangunan besar bertinggkat tinggi.

Atapnya menggunakan palem, dan singgasana sang raja dibuat dari gading.

Jepara dikatakan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Kalingga, karena terdapat tempat bernama Keling.

Sedangkan kawasan Pekalongan dianggap sebagai wilayah kekuasaan Kalingga, karena kerajaan ini dibangun di Pekalongan yang menjadi tempat pelabuhan kuno.

Bahkan nama kota ini juga berhubungan dengan nama Kalingga, yakni Pe-Kaling-an.

Silsilah Kerajaan Kalingga

Sosok Ratu Shima berhubungan erat dengan Kerajaan Galuh.

Parwati, putri dari Maharani Shima menikah dengan Mandiminyak, putra mahkota dari Kerajaan Galuh.

Pangeran ini juga akhirnya naik tahta sebagai raja kedua Kerajaan Galuh.

Shima memiliki cucu yang dikenal sebagai Sanaha.

Cucunya yang kemudian menikah dengan Bratasena, sang raja ketiga Kerajaan Galuh.

Bratasena dan Sanaha memiliki keturunan bernama Sanjaya.

Kelak Sanjaya menjadi raja Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda.

Ia memerintah kerajaan tersebut sejak 723 hingga 732 Masehi.

Saat Ratu Shima meninggal dunia pada 732 Masehi, Ratu Sanjaya diangkat sebagai penggantinya.

Sehingga ia memerintah Kerajaan Kalingga Utara. Kelak kerajaan ini dikenal sebagai Bumi Mataram. Dan terbentuklah Dinasti atau Wangsa Sanjaya di kawasan Kerajaan Mataram Kuno.

Kerajaan Holing pada akhirnya ditaklukkan oleh Kerajaan Sriwijaya pada tahun 752 Masehi. Kalingga dianggap sebagai salah satu bagian jaringan perdagangan Hindu.

Sama seperti dengan Tarumanagara dan Melayu yang lebih dulu dikuasai oleh Sriwijaya. Tiga kerajaan itu memang dianggap sebagai pesaing berat dalam jaringan perniagaan Sriwijaya.

Beberapa nama raja yang memimpin Kalingga sebelum takhta diduduki Ratu Shima, antara lain Prabu Wasudewa, Prabu Wasukawi dan Prabu Kirathasingha.

Hingga raja yang paling dikenal pada masa kerajaan Kalingga adalah Ratu Shima resmi diangkat sebagai raja pada 674 masehi. Sosoknya menggantikan sang suami, Prabu Kirathasingha yang sebelumnya meninggal dunia.

Berikut nama raja yang pernah menguasai kerajaan Kalingga, yaitu:

  • Prabu Wasumurti (594-605 M)
  • Prabu Wasugeni (605-632 M)
  • Prabu Wasudewa (632-652 M)
  • Prabu Kirathasingha (632-648 M)
  • Prabu Wasukawi (652 M)
  • Prabu Kartikeyasingha (648-674 M)
  • Ratu Shima (674-695 M)

Masa Kejayaan Kerajaan Kalingga

Masa kejayaan Kerajaan Kalingga terjadi kala dipimpin oleh Ratu Shima sejak 674 hingga 732 Masehi. Kejujuran dan keadilan sangat di junjung tinggi.

Dengan adanya penerapan hukum yang sangat tegas, seperti memotong tangan bagi siapa saja yang terbukti mencuri.

Kaling di Jepara adalah ibukota Kerajaan Kalingga.

Kawasan ini dikenal sangat subur, sehingga rakyatnya banyak mengandalkan dunia pertanian sebagai mata pencahariannya.

Bahkan juga perdagangan hasil buminya sampai ke negeri Tiongkok.

Masa Keruntuhan Kerajaan Kalingga

Hanya saja, masa kejayaan Kerajaan Kalingga tidak berlangsung lama.

Karena sejak Ratu Shima meninggal dunia dan tahtanya dimiliki keturunannya, mulailah terjadi tanda-tanda kehancuran.

Puncaknya ketika terjadi serangan dari Kerajaan Sriwijaya. Jalur perniagaannya direbut, dan rakyat Kalingga harus mengungsi ke pedalaman Pulau Jawa.

Peningalan Kerajaan Kalingga

Peningalan Kerajaan Kalingga

Bisa dikatakan catatan sejarah mengenai Kerajaan Kalingga sangat terbatas.

Catatan sejarah pengembara dari zaman Dinasti Tang dan I-Tsing menjadi rujukan yang penting.

Selain itu, para ahli juga mengungkap keberadaan kerajaan ini dari berbagai peninggalan, seperti prasasti, arca dan candi. Berikut ini adalah peninggalan yang mampu diidentifikasi.

1. Prasasti Tukmas

Prasasti ini dijumpai di Kecamatan Grabak, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta tertera pada prasasti ini.

Pahatan gambar juga terlihat pada prasasti tersebut. Peninggalan ini mengungkapkan jika terdapat sungai berair jernih di lereng Merapi. Aliran sungainya yang mirip dengan sungai Gangga yang ada di India.

Sejumlah gambar yang tertera pada prasasti ini adalah bunga teratai, kelasangka, cakra, kendi, kapak dan trisula.

Dan, dari prasasti ini terlihat kalau Kerajaan Kalingga ada hubungannya dengan kebudayaan agama Hindu yang berasal dari India.

Memang penemuan prasasti ini lebih jauh dari ibukota Kalingga yang terletak di Jepara. Namun hal itu dianggap sebagai wilayah kekuasaan Kalingga yang sangat luas.

2. Prasasti Sojomerto

Kabupaten Batang menjadi satu wilayah penemuan prasasti ini. Sojomerto adalah nama dusun dimana prasasti itu ditemukan.

Huruf kawi digunakan pada peninggalan ini, tapi dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Karena itu, diprediksi prasasti ini dibuat di abad tujuh Masehi.

Prasasti ini menerangkan keadaan keluarga dari Kerajaan Kalingga.

Dapunta Sailendra tertulis sebagai pendiri dari kerajaan tersebut.

Sehingga dari penemuan ini disimpulkan jika pendiri dari Kerajaan Kalingga berasal dari keturunan Dinasti Sailendra, yang adalah penguasa dari Kerajaan Mataram Kuno.

Baca juga: KERAJAAN DEMAK: Letak, Sejarah, Silsilah, & Peninggalan Kerajaan Demak

3. Prasasti Upit

Prasasti ini ditemukan di wilayah Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Penemuan yang menjelaskan adanya kampung upit, yang dibebaskan dari pajak atau daerah perdikan.

Kebijakan ini atas anugerah Ratu Shima, sang penguasa Kalingga. Agar bisa dirawat dan dilestarikan, maka prasasti ini ditempatkan di Museum Purbakala yang berada di Prambanan, Klaten.

4. Candi Angin

Selain ketiga prasasti diatas, Kerajaan Kalingga juga meninggalkan beberapa bangunan berupa candi.

Salah satunya yaitu Candi Angin. Bangunan kuno ini berada di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.

Penamaan candi ini karena letaknya sangat tinggi. Namun, walau terpaan angin begitu kencang yang berlangsung setiap hari, tapi bangunan candinya tetap kokoh dan tidak roboh.

Menurut para ahli, kemungkinan Candi Angin dibangun lebih dulu ketimbang Candi Borobudur.

Hal ini disimpulkan dari analisa karbon. Candi ini diprediksi dibangun sebelum masuknya kebudayaan Hindu dan Budha yang berbaur dengan kebudayaan masyarakat Jawa. Karena tidak terdapat ornamen Budha dan Hindu pada candi tersebut.

5. Candi Bubrah

Lokasi Candi Bubrah berada tidak jauh dari Candi Angin.

Sebenarnya penamaan candi ini karena ketika ditemukan keadaan bangunannya sudah hancur lebur.

Bubrah dalam Bahasa Jawa artinya hancur lebur.

Jika dilihat dari gaya bangunan dan arsitekturnya, maka candi tersebut diprediksi dibangun pada abad kesembilan Masehi, karena menampilkan corak kebudayaan Budha.

Bahan yang digunakan dalam membangun candi ini berupa batu andesit.

Ukuran candi berkisar 12 x 12 meter persegi.

Hanya saja, ketika ditemukan bangunan ini hanya menyisakan reruntuhan dengan tinggi hanya berkisar dua meteran saja.

Kehidupan Kerajaan Kalingga

Sistem pemerintahan kerajaan Kalingga menjadi salah satu yang paling utama, karena semua elemen sangat menjunjung tinggi peraturan dan hukum yang ditetapkan.

Masyarakatnya sangat peduli dan memahami benar terkait hukum yang diterapkan, berikut ini adalah beberapa kehidupan masyarakat di kerajaan Kalingga.

1. Kehidupan Politik

Ketika masuk ke era kepemimpinan Ratu Shima, kerajaan Kalingga sangat makmur dan mencapai puncak kejayaan hingga nama sang ratu menjadi terkenal.

Ratu Shima terkenal tegas, jujur dan bijaksana saat menegakkan hukum dengan adil dan membuat musuh kerajaan ini sangat segan terhadap dirinya.

2. Kehidupan Ekonomi

Ratu Shima menjadikan rakyatnya menjadi adil dan hidup teratur, aman dan tentram sehingga tidak ada gangguan yang artinya dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Dalam memajukan kehidupan ekonomi masyarakat Kalingga memiliki mata pencaharian utama dengan bertani, karena itulah wilayah Kalingga memiliki tanah yang sangat subur.

2. Kehidupan Agama

Masyarakat kerajaan Agama didominasi beragama Buddha, agama yang berkembang begitu pesat karena memang berdirinya kerajaan ini berasal dari seorang dari India.

Dinasti I-Tsing menyebutkan jika Kalingga menjadi salah satu pusat dari ilmu pengetahuan agama Buddha Hinayana.

Catatan ini juga menyebutkan jika adanya pendeta Hwining yang menerjemahkannya.

3. Peninggalan Kerajaan Kalingga

Peninggalan kerajaan Kalingga dijadikan sebagai sumber adanya cerita dari kerajaan ini, walau kebanyakan peninggalan tidak memuat tentang informasi yang rinci.

Hanya memuat potongan-potongan informasi yang sulit diurutkan, berikut ini beberapa peninggalan kerajaan Kalingga yang juga dijadikan sebagai sumber sejarah kerajaan Kalingga.

Baca juga: KERAJAAN SINGASARI: Letak, Sejarah, Silsilah, & 6 Peninggalan

1. Prasasti Tuk Mas

Saat ditemukan Prasasti Tuk Mas berisi tulisan dengan huruf pallawa dan berbahasa Sansekerta yang saat itu berada di lereng barat Gunung Merapi.

Berisi tentang sumber air yang sangat bersih, aliran sungai dari sumber ini diibaratkan sama dengan aliran sungai Gangga yang terdapat di India. Ada juga beberapa lambang Hindu, seperti keong, kendi, trisula dan cakra.

2. Prasasti Sojomerto

Ditemukan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah dan menariknya prasasti ini ditemukan dengan berisi tulisan aksara Kawi dan melayu kuno.

Prasasti ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-7 masehi, memuat tentang informasi keluarga dari tokoh utama Dapunta Syailendra.

Istrinya bernama Sampula, yang merupakan cikal bakal dari raja-raja keturunan Wangsa Syailendra di kerajaan Medang.

3. Candi Angin

Ditemukan di Kabupaten Jepara, berada sangat tinggi namun tidak roboh jika tertiup angin karena itu dinamakan dengan candi angin.

Para peneliti menyebut jika candi Angin dikatakan lebih tua dari candi Borobudur, beberapa ahli bahkan menyebut jika candi ini didirikan oleh manusia di masa purba karena tidak timbul ornamen Hindu-Budha.

4. Candi Bubrah

Menjadi salah satu candi Budha yang terdapat di dalam kompleks candi Prambanan, berada di antara percandian Roro Jonggrang dan Candi Sewu.

Ditemukan di kecamatan Prambanan, Jawa Tengah walau saat ini yang tersisa hanyalah reruntuhan dengan tinggi mencapai 2 meter. Saat ditemukan adanya arca Budha walau wujudnya sudah tidak utuh lagi.

5. Situs Puncak Sanga Likur

Situs ini berada di puncak Gunung Muria yang disebut Rahtawu, di area situs ini terdapat 4 arca batu yang masing-masing bernama Arca Batara Guru, Narada, Togog dan Wisnu.

Meski demikian belum bisa dipastikan bagaimana empat arca yang diangkut ke puncak gunung, karena jalan untuk sampai ke puncak sangat curam.

Kisah Ketegasan Ratu Shima

Ratu Shima menegakkan hukum dengan seadil-adilnya, tidak hanya kepada masyarakat tetapi juga anggota keluarganya sendiri.

Dalam satu cerita disebutkan jika Ratu Shima pernah melakukan uji coba dalam mengetes bagaimana rakyatnya menegakkan hukum.

Ia meletakkan karung berisi emas di tengah jalan dan membiarkannya dalam waktu lama.

Dan tidak ada orang yang berani menyentuh karung tersebut selama bertahun-tahun, namun setelah itu muncul salah satu anggota keluarga yang menyentuh karung emas itu.

Dan kejadian ini diketahui Ratu Shima, hingga kemudian menindak tegas anggota keluarga yang ternyata anaknya sendiri dan akan dihukum mati.

Namun pada akhirnya oleh dewan kerajaan hukuman mati dibatalkan dan diganti dengan hukuman potong kaki.

Hal ini dilakukan karena bagian kaki yang menyentuh karung meas tersebut, kejadian ini sekaligus menjadi bukti dari ketegasan Ratu Shima dalam menegakkan hukum yang tidak pandang bulu meski keluarganya yang menjadi tersangka.

Kesimpulan

Ho Ling merupakan sebuah sebutan lain dari Kerajaan Kalingga, berdasarkan dari catatan dari Tiongkok, kerajaan ini diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke-6 Masehi.

Wilayah kekuasaan kerajaan kalingga meliputi wilayah di Jawa Tengah, antara Jepara dan Pekalongan. Kalingga juga dianggap sebagai nenek moyang Kerajaan Mataram Kuno.

Ratu Shima adalah sebagai ratu yang memimpin Kerajaan Kalingga. Catatan dari Tiongkok menjelaskan jika sejak 674 hingga 732 Masehi, rakyat Kalingga diperintah oleh Ratu Shima.

Masa kejayaan Kerajaan Kalingga terjadi kala dipimpin oleh Ratu Shima sejak 674 hingga 732 Masehi. Kejujuran dan keadilan sangat di junjung tinggi.

Karena sejak Ratu Shima meninggal dunia dan tahtanya dimiliki keturunannya, mulailah terjadi tanda-tanda kehancuran.

KERAJAAN KALINGGA: Letak, Sejarah, Silsilah, & Peninggalan Kerajaan Holing juga memiliki beragam peninggalan yang masih tersimpan rapi di beberapa lokasi, seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Baca Juga:

Tinggalkan komentar