close button

KERAJAAN MATARAM: Letak, Sejarah, Silsilah, & Peninggalan Kerajaan Mataram

  •   Jul 2022  •   11 min read  •   Comment

Kerajaan Mataram atau dikenal dengan Kesultanan Mataram merupakan kerajaan Islam yang berdiri di tanah Jawa pada abad ke-17.

Pada masa kejayaannya, Kesultanan Mataram menguasai hampir seluruh tanah Jawa dan kawasan sekitarnya, termasuk Madura kecuali Batavia yang dikuasai oleh VOC. Tidak seperti kerajaan besar nusantara lainnya yang berbasis pada maritim, Kesultanan Mataram hanya berbasis pada pertanian.

Masa kejayaan kesultanan Mataram memang dikenal memberikan kemakmuran bagi rakyatnya, terbukti dengan peninggalan sejarah yang sampai saat ini masih terjaga.

Membahas lebih jauh mengenai kerajaan mataram: letak, sejarah, silsilah, & peninggalan kerajaan mataram, simak bahasannya berikut.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram

Berdirinya Kerajaan Mataram bermula dari keberhasilan Sutawijaya dalam pertempuran mengalahkan Aria Penangsang asal Jipang.

Dengan keberhasilannya tersebut, Sutawijaya kemudian mendapatkan hadiah Hutan Mentaok dari Sultan Hadi Wijaya.

Sebelum diberikan ke Sutawijaya, Hutan Mentaok semula dipimpin oleh ayah Sutawijaya yakni Ki Ageng Pamanahan.

Sepeninggal Ki Ageng Pamanahan, Hutan Mentaok lalu dipegang oleh Sutawijaya dengan gelar Panembahan Senopati.

Wilayah pemerintahannya pada saat itu mewarisi wilayah Kerajaan Pajang atau sekitar kawasan Jawa Tengah saat ini.

Baca juga: KERAJAAN TARUMANEGARA: Letak, Sejarah, Silsilah, & Peninggalan Kerajaan

Pusat pemerintahan ada di Mentaok timur Kota Yogyakarta dan selatan Bandar Udara Adisucipto.

Bermula lokasi keraton berada di kawasan Banguntapan dan pindah ke Kotagede.

Setelah Sutawijaya meninggal dan dimakamkan di Kotagede, kekuasaan diturunkan ke putranya Mas Jolang yang bergelar Prabu Hanyokrowati.

Hanya saja pemerintahan Prabu Hanyokrowati tidak berlangsung lama, Ia wafat setelah mengalami kecelakaan ketika berburu di hutan Krapyak.

Karena itulah beliau disebut sebagai Susuhunan Seda Krapyak, yang artinya Raja (yang) wafat (di) Krapyak.

Tahta kerajaan kemudian dialihkan sementara waktu ke tangan putra keempat Mas Jolang, Adipati Martopuro.

Penyakit syaraf yang dialami oleh Adipati Martopuro membuat tahta kerajaan harus dialihkan ke putra sulung Mas Jolang yaitu bernama Mas Rangsangpada.

Di masa pemerintahan Mas Rangsang inilah Mataram mengalami zaman kejayaan atau keemasan.

Letak Kerajaan Mataram

Kerajaan Mataram Islam berpusat di kawasan Kota Gede, Yogyakarta saat ini.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram sebelum tahun 1613 meliputi wilayah Kerajaan Pajang atau Jawa Tengah.

Lalu di bawah pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645) wilayah kekuasaan Mataram diperluas hingga meliputi kawasan Jawa Barat, sebagian Jawa Timur seperti Surabaya, Lasem, Pasuruan, Tuban dan Madura.

Silsilah Kerajaan Mataram

Kesultanan Mataram pernah dipimpin oleh beberapa raja. Berikut ini daftar nama raja tersebut :

1. Ki Ageng Pamanahan

Raja pertama dari Kerajaan Mataram adalah bernama Ki Ageng Pamanahan.

Beliau adalah pendiri Desa Mataram yang menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram di tahun 1556.

Desa Mataram ini mulanya berupa hutan yang bernama Alas Mentaok dan dijadikan pemukiman penduduk.

Di tahun 1584 Ki Ageng Pamanahan menghembuskan napas terakhirnya dan dimakamkan di kawasan Kotagede.

2. Panembahan Senopati

Kekuasaan Mataram lalu dilanjutkan ke tangan anak Ki Ageng Pamanahan yaitu Sutawijaya.

Sutawajaya adalah anak angkat dan menantu Sultan Kerajaan Pajang.

Beliau juga menjadi senapati di Kerajaan Pajang yang kemudian bergelar Panembahan Senapati.

Di bawah pemerintahan Panembahan Senapati Kerajaan Mataram mengalami kebangkitan.

Kerajaan ini lalu memperluas wilayahnya mulai dari Pajang kemudia ke Demak, Pasuruan, Tuban, Madiun dan sebagian wilayah Surabaya.

Pada tahun 1523 Panembahan Senapati wafat dan digantikan oleh RM. Jolang, anaknya.

Baca juga: KERAJAAN DEMAK: Letak, Sejarah, Silsilah, & Peninggalan Kerajaan Demak

3. Panembahan Anyakrawati

Panembahan Anyakrawati atau Raden Mas Jolang adalah keturunan dari Panembahan Senapati dengan putri dari Ki Ageng Panjawi.

Ia lalu memerintah mulai dari 1606 sampai 1613. Raden Mas Jolang mangkat pada 1613 berada di Desa Krapyak kemudian dimakamkan di makam agung Kotagede.

4. RM. Rangsang

Sepeninggal Panembahan Anyakrawati, kekuasaan dilanjutkan pada putra Raden Mas Jolang, yakni Raden Mas Rangsang.

Beliau memerintah mulai 1613 sampai 1645. RM. Rangsang yang dikenal sebagai Sultan Agung, raja terbesar di Kerajaan Mataram.

Pada masa pemerintahan beliau, Kerajaan Mataram mencapai kejayaannya bahkan mampu menguasai hampir seluruh wilayah Tanah Jawa.

Sultan Agung tidak hanya melakukan penaklukan wilayah, tapi juga genjar melawan VOC. Beliau wafat di tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri.

Di masa pemerintahannya, kerajaan Islam mulai berkembang pesat sebagai Kerajaan Agraris bukan sebagai Kerajaan Maritim.

5. Amangkurat I

Setelah Sultan Agung mangkat, kekuasaan diturunkan ke putranya yang bernama Sultan Amangkurat.

Pada tahun 1647 Sultan Amangkurat memindahkan pusat kerajinan yang bermula di Kotagede ke Keraton Plered.

Sultan Amangkurat menjadi raja mulai dari 1638 sampai 1647.

Tidak seperti pendahulunya yang bersimpangan dengan VOC, Amangkurat I justru berteman dengan VOC.

Hal ini memicu perpecahan pada Kerajaan Mataram Islam, dan raja Amangkurat I wafat pada bulan Juli 1677.

6. Amangkurat II

Amangkurat II sebagai pendiri Kasunanan Kartasura yang menjadi kelanjutan Kesultanan Mataram.

Amangkurat II memerintah mulai tahun 1677 – 1703.

Raden Mas Rahmat disebut juga sebagai Sunan Amral (Admiral) karena menjadi raja Jawa yang pertama kali menggunakan pakaian dinas dengan bentuk pakaian Eropa.

Masa Awal dan Kejayaan Kerajaan Mataram Islam

KERAJAAN MATARAM: Letak, Sejarah, Silsilah, & Peninggalan Kerajaan Mataram

Sejarah Kerajaan Mataram IslamKetika Sultan Agung Hanyakrakusuma memimpin Kerajaan Mataram Islam pada tahun 1613 sampai 1645 M, kejayaan Kerajaan Kesultanan Mataram semakin maju dan berada di puncak.

Di eranya, Sultan Agung berhasil menguasai banyak daerah kekuasaan di berbagai wilayah di Jawa.

Selain itu, kemajuan Kerajaan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Sultan Agung juga berhasil menguasai banyak aspek kehidupan masyarakat saat itu.

Beberapa di antaranya seperti pada bidang ekonomi, keagamaan, budaya, hukum, pemerintahan dan masih banyak lagi lainnya.

Baca juga: KERAJAAN SINGASARI: Letak, Sejarah, Silsilah, & 6 Peninggalan

Di masa kepemimpinannya, Sultan Agung memiliki beberapa kebijakan penting dalam bidang ekonomi yang diusungnya yaitu sektor pertanian, fiskal dan juga moneter.

Di era Sultan Agung beliau membangun sektor pertanian dengan memberikan tanah kepada petani dan membentuk forum komunikasi sebagai tempat pembinaan.

Dimana dalam urusan fiskal, Sultan Agung mengatur regulasi pajak yang tidak memberikan beban kepada rakyatnya.

Dan pada bidang moneter Sultan Agung membentuk lembaga keuangan untuk mengelola dana kerajaan.

Di bidang keagamaan dan hukum Islam, Sultan Agung juga menggunakan aturan yang sesuai dengan aturan Islam.

Tidak hanya itu, ulama pada saat itu juga diberikan ruang untuk bekerja sama dengan pihak kerajaan.

Bahkan, Sultan Agung juga menetapkan penanggalan atau Kalender Jawa sejak tahun 1633 di mana penghitungan tanggal tersebut adalah kombinasi kalender Saka dan Hijriah.

Pada bidang kebudayaan dan kesenian, Sultan Agung termasuk juga pemimpin yang sangat berperan dalam memajukan kesenian di wilayahnya.

Menurut sumber sejarah, berbagai jenis tarian, gamelan sampai wayang sangat berkembang pesat di bawah kepemimpinan Sultan Agung.

Selain mengawal kemajuan kesenian, Sultan Agung juga ikut serta dalam menghasilkan karya seni berupa Serat Sastra Gendhing.

Sastra bahasa di zaman tersebut juga semakin berkembang ketika Sultan Agung mulai memberlakukan penggunaan tingkatan bahasa di wilayah luar Yogyakarta sampai Jawa Timur.

Sultan Agung termasuk juga pemimpin yang menginisiasi terbentuknya provinsi dengan memilih adipati sebagai kepala wilayah di setiap daerah yang dikuasai Mataram.

Masa Keruntuhan Kerajaan Mataram

Masa keruntuhan Kerajaan Mataram ini mulai terlihat sejak kegagalannya mengusir VOC dari Batavia.

Hanya keruntuhan tersebut terlihat jelas ketika Amangkurat I memindahkan lokasi keraton ke Plered di tahun 1647.

Di masa pemerintahan Amangkurat I, Kesultanan Mataram sering mengalami pemberontakan. Pemberontakan terbesar yang dipimpin oleh Trunajaya yang memaksa Amangkurat I untuk berkoalisi dengan VOC.

Pengganti Amangkurat I, yaitu Amangkurat II juga kurang disukai oleh kalangan istana karena begitu tunduk oleh VOC.

Hal ini memicu pemberontakan yang memaksa keraton dipindahkan ke Kartasura karena keraton yang lama dianggap sudah tersusupi.

Setelah Amangkurat II wafat, kekuasaan diturunkan ke Amangkurat III, Amangkurat IV dan Pakubuwana II.

Tidak seperti pendahulunya yang tunduk pada VOC, Amangkurat III tak tunduk pada VOC.

Hal ini membuat VOC geram dan menobatkan Pakubuwana I sebagai raja. Adanya dua orang raja memicu perpecahan internal di kalangan keraton.

Amangkurat III lalu melakukan pemberontakan dan ditangkap di Batavia. Kekacauan politik baru bisa diredakan pada masa Pakubuwana III yang membagi wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam yang menjadi salah satu kerajaan Islam tertua di tanah air tentulah memiliki banyak barang peninggalan.

Dan peninggalan dari Kerajaan Mataram Islam selain menjadi situs atau sumber sejarah kepada para generasi di tanah air juga bisa menjadi tempat wisata.

Berikut ini adalah beberapa sumber sejarah sekaligus peninggalan Kerajaan Mataram Islam yang masih bisa ditemui hingga hari ini.

  • Karya Sastra Ghending dari Sultan Agung
  • Adanya tahun Saka
  • Adanya kerajinan perak
  • Kalang Obong

Adanya tradisi Kalang Obong. Dimana tradisi Kalang Obong ini sendiri ialah tradisi kematian orang Kalang yang dilakukan dengan cara membakar berbagai peninggalan orang yang telah meinggal.

  • Kue Kipo

Terdapat kuliner khas Kue Kipo. Kue Kipo adalah makanan khas masyarakat dari Kota Gede. Menurut beberapa orang, makanan ini telah ada sejak masa Kerajaan Mataram Islam berdiri.

  • pertapaan Kembang Lampir

Terdapatnya pertapaan Kembang Lampir. Tempat ini adalah tempat Ki Ageng Pemanahan melakukan pertapaan untuk menerima wahyu kerajaan Mataram Islam

  • Segara Wana dan Syuh Brata

Terdapat Segara Wana dan Syuh Brata yang adalah meriam-meriam peninggalan Kerajaan Mataram Islam.

Meriam-meriam ini diberikan oleh Belanda atas perjanjian bersama Kerajaan Mataram Islam di masa kepemimpinan Sultan Agung

  • candi sewu

Terdapatnya berbagai puing-puing candi Hindu dan Budha di aliran Sungai Opak serta di sekitar aliran Sungai Progo.

Terdapatnya Batu Datar yang berada di Lipura. Berada Lipura tidak jauh dari barat Daya Kota Yogyakarta.

  • pakaian Kiai Antakusuma

Terdapatnya pakaian peninggalan Kiai Gundil atau dikenal juga dengan nama Kiai Antakusuma.

  • Masjid Agung Negara

Terdapatnya Masjid Agung Negara yang telah dibangun sejak tahun 1763 oleh PB III.

Terdapatnya Masjid Jami Pakuncen yang didirikan oleh Sunan Amangkurat I.

  • Gapura Makam Kota Gede

Terdapatnya Gapura Makam Kota Gede yang menjadi perpaduan antara corak Hindu dan juga Islam dan juga terdapatnya Masjid yang berada di Makam Kota Gede.

  • Bangsal Duda
  • Terdapatnya Bangsal Duda
  • Rumah Kalang
  • Terdapatnya Rumah Kalang
  • Terdapatnya berbagai makam dari raja-raja Mataram yang berada di Imogiri
  • Terdapatnya Gerbang Makam Kota Gede

Objek Wisata Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

  • Pasar Legi Kotagede

Pasar Legi Kotagede ini menjadi salah satu tempat yang menjadi peninggalan zaman kerajaan.

Pasar ini termasuk pasar tertua yang ada di Jogjakarta dan tetap aktif hingga hari ini.

Pasar Tradisional menjadi pusat kegiatan jual beli bagi masyarakat Kotagede.

Kegiatan pasar selalu ramai terutama saat pasaran legi yang adalah hari berdasarkan penanggalan Jawa.

Di hari tersebut para penjual akan tumpah hingga ke bahu-bahu jalan.

Bahkan saat pagi hari, pelataran pasar terlihat ramai oleh berbagai pedagang hewan.

Dan, di malam harinya lokasi ini akan ramai dengan sajian kuliner khas Kotagede.

Berbagai jenis kulineran mulai dari makanan tradisional sampai kekinian bisa didapatkan di sini.

Maka tidak heran jika pasar yang berada di Jalan Mondorakan, Purbayan, Kecamatan Kotagede ini sangat digemari oleh banyak wisatawan.

  • Makam Para Raja-raja Mataram

Di lokasi ini para wisatawan bisa melihat wisata rohani sekaligus wisata budaya.

Di tempat makam para raja-raja Mataram yang memang dijadikan sebagai destinasi ziarah ini akan menemukan makam dari Raja pertama Mataram Islam yaitu Danang Sutawijaya atau lebih dikenal dengan nama Panembahan Senopati.

Raja kedua bernama Mas Jolang atau Panembahan Hanyakrawati yang kemudian di semayamkan di area pemakaman ini.

  • Masjid Gedhe Mataram

Tidak jauh dari Pasar Legi Kotagede, yaitu sekitar 500 meter maka kamu akan menemui Masjid Gedhe Mataram.

Masjid yang penuh sejarah ini dipakai sebagai masjid pada umumnya di tanah air.

Tidak ada biaya masuk untuk mengunjungi masjid ini. Para wisatawan hanya perlu memberikan infak seikhlasnya di kotak infak masjid.

Jangan lupa, jika ingin mengunjungi tempat ini maka wajib untuk memakai pakaian adat Jawa yang bisa di sewa di lokasi.

Jika ingin menikmati pemandangan kamu bisa berkeliling di area makam Raja-raja Mataram.

Tempat wisata makam ini dibuka untuk para wisatawan pada hari tertentu saja yaitu hari Senin, Kamis, Jumat dan Minggu. Tempat wisata akan dibuka mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WIB.

  • Between Two Gates

Lokasi Between Two gates berjarak sekitar 450 meter dari Makam Raja-raja Mataram. Kompleks bangunan bersejarah ini menjadi tempat wisata pemukiman yang masih sangat kental dengan budaya tradisionalnya.

Di area ini kamu akan melihat rumah-rumah Joglo yang bernuansa Jawa Kuno dan masih dihuni oleh warga setempat hingga sekarang ini.

Dinamakan Between Two Gates karena area ini diapit oleh dua gerbang. Selain bisa menikmati nuansa Jawa Kuno, di tempat ini kamu juga bisa menemukan banyak spot foto untuk berfoto instagenik.

Nuansa jadul dan arsitektur yang unik menjadikan tempat ini sangat cocok untuk berswafoto cantik.

Tidak hanya itu nuansa tenang, damai dan nyaman akan membuat kamu semakin betah di sini.

Untuk menikmati semuanya itu cukup berdonasi seikhlasnya saja. Jika ingin mampir di tempat wisata ini, para pengunjung wajib parkir di luar lokasi karena adanya larangan untuk menyalakan mesin motor.

Bahkan, untuk warga di wilayah ini mesti mendorong hingga ke depan gerbang terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga pelestarian permukiman tradisional di dalam wilayah Between Two Gates ini.

  • Benteng Cepuri

Tempat Wisata lainnya dan menjadi peninggalan Kerajaan Mataram Islam di Kotagede ialah Benteng Cepuri.

Peninggalan Benteng Cepuri memang hanya menyisakan reruntuhan. Namun, di zaman kerajaan benteng ini luar biasa kokoh sehingga dijadikan sebagai benteng Pertahanan.

Sekarang ini Benteng Cepuri telah dijadikan sebagai spot foto bagi para wisatawan. Sampai saat ini berbagai peninggalan dari Kerajaan Mataram juga dapat ditemukan pada wisata kulinernya.

Kesimpulan

Mula berdirinya Kerajaan Mataram bermula dari keberhasilan Sutawijaya dalam pertempuran mengalahkan Aria Penangsang asal Jipang.

Dengan keberhasilannya tersebut, Sutawijaya kemudian mendapatkan hadiah Hutan Mentaok dari Sultan Hadi Wijaya.

Sebelum diberikan ke Sutawijaya, Hutan Mentaok semula dipimpin oleh ayah Sutawijaya yakni Ki Ageng Pamanahan.

Sejarah Kerajaan Mataram IslamKetika Sultan Agung Hanyakrakusuma memimpin Kerajaan Mataram Islam pada tahun 1613 sampai 1645 M, kejayaan Kerajaan Kesultanan Mataram semakin maju dan berada di puncak.

Masa keruntuhan Kerajaan Mataram ini mulai terlihat sejak kegagalannya mengusir VOC dari Batavia.

Untuk itulah penting mengetahui sejarah tentang KERAJAAN MATARAM: Letak, Sejarah, Silsilah, & Peninggalan Kerajaan Mataram seperti penjelasan di atas.

Orang juga bertanya

English private teacher, seo writter, english translator, and content writer.

Tinggalkan komentar