Transducer: Pengertian, Fungsi, 3 Jenis, & Pengaplikasiannya

  •   Jul 2024  •   16 min read  •   Comment

Transducer – Tiap elektronik dapat bekerja secara optimal tentu karena adanya beragam komponen penyusun, salah satunya transduser.

Transducer (Transduser) merupakan alat yang mampu mengkonversikan bentuk energi ke bentuk energi lainnya.

Bentuk – bentuk energi yang dimasuk ialah: Energi Elektromagnetik, Energi Kimia, Energi Cahaya, dan lainnya.

Biasanya, semua alat mampu mengkonversikan suatu energi ke energi lainya disebut dengan transduser.

Nah, simak pembahasan lebih lengkapnya di bawah ini, ya!

1. Transducer Adalah

Pada umumnya, sebuah perangkat elektronika tersusun dari banyak komponen untuk membantu perangkat elektronika tersebut agar bekerja dengan baik, salah satu komponennya adalah transducer.

Transducer atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut transduser ini merupakan komponen elektronika yang dapat mengubah atau mengonversikan suatu bentuk energi menjadi bentuk energi yang lainnya, seperti energi listrik, energi mekanik, energi panas, energi cahaya, energi elektromagnetik, energi kimia, energi akustik atau bunyi, dan lainnya.

Transduser ini diambil dari kata Bahasa Latin yaitu Traducere yang memiliki arti Mengubah, maka dari itu transduser ini memiliki fungsi untuk mengubah atau mengkoversi suatu bentuk energi menjadi energi lainnya.

Semua alat yang dapat mengubah atau mengkoversikan suatu bentuk energi menjadi bentuk energi lainnya ini pada umumnya dapat disebut sebagai transduser.

Penggunaan transduser paling sederhana adalah penggunaan transduser pada handphone dan microphone.

Baca Juga: Fungsi Turbo: Pengertian, 3 Komponen, & Cara Perawatan

2. Fungsi Transducer

Transduser ini memiliki berbagai macam fungsi, khususnya pada rangkaian elektronika.

Transducer ini memiliki berbagai macam fungsi yang dapat disesuaikan tergantung dari tujuan sistem elektronika tersebut.

Pada dasarnya, transduser ini memiliki fungsi untuk mengubah atau mengonversikan suatu bentuk energi menjadi bentuk energi lainnya.

Transducer ini sering ditemukan dalam rangkaian elektronika yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Fungsi alat ini dalam mengubah besaran energi dapat disesuaikan tergantung alat yang digunakan.

Beda jenis perangkat yang dipasangi transduser, maka fungsi dan cara kerjanya pun berbeda.

Baca Juga: Cara Setting TV IndiHome (UseTV dan STB TV)

3. Spesifikasi Transducer

Agar dapat bekerja dengan maksimal, serta berfungsi dengan baik, transduser ini memiliki beberapa spesifikasi yang harus dipenuhi atau persyaratan sebelum menggunakan transduser pada perangkat elektronika.

Berikut spesifikasi yang harus dipenuhi atau persayaratan sebelum menggunakan transduser pada perangkat elektronika:

  • Transducer harus memiliki kemampuan untuk menghasilkan input dan output yang simetris atau linearitas
  • Transducer ini sebaiknya mempunyai kepekaan yang baik terhadap benda yang hendak diukur
  • Transducer dapat menghasilkan output dengan nilai yang sama, terutama ketika pengukuran pada objek dan besaran ukur yang sama dilakukan secara berulang
  • Transducer ini sebaiknya tidak terpengaruh oleh berbagai macam faktor dari luar yang terdapat pada lingkungan tersebut
  • Transducer mempunyai kemampuan untuk memproteksi atau melindungi pada saat alat mendapatkan beban yang berlebihan
  • Kesalahan dalam pengukuran minimum ini dikarenakan oleh alat stabil dan juga mempunyai tingkat keandalan yang tinggi, dan
  • Pada umumnya, komponen mempunyai instrumentasi yang memuaskan, dan rendah noise

Baca Juga: Fungsi dari Transmisi Adalah: 13 Komponen & Cara Kerjanya

4. Jenis – jenis Transducer dan Komponennya

Transducer

Transducer ini memiliki berbagai macam jenis.

enis-jenis tersebut dibedakan menjadi 3, yaitu transduser berdasarkan fungsinya, transduser berdasarkan sumber energinya, dan transduser berdasarkan media transdusinya & kelistrikannya.

Berikut pembahasan mendalam mengenai jenis-jenis transduser.

4.1 Transducer Berdasarkan Fungsinya

Berdasarkan fungsinya, transduser ini memiliki 3 macam, yaitu:

4.1.1 Transducer Input

Transducer input ini merupakan salah satu jenis transduser yang dibedakan berdasarkan fungsinya.

Fungsi dari transduser input ini adalah mengubah atau mengonversikan energi fisik yang dikeluarkan oleh pengguna menjadi sinyal listrik.

Energi fisik tersebut ini dapat berupa suhu, tekanan, cahaya, dan gelombang suara.

Energi fisik tersebut akan masuk pada transduser input melalui kabel.

Salah satu contoh dari penggunaan transduser input ini adalah microphone yang memiliki gelombang suara yang diubah menjadi besaran listrik yang dapat dihantarkan melalui kabel.

Sebagai gamabran yaitu penggunaan gelombang suara microphone yang melibatkan kabel listrik dan sinyal dalam penggunaannya, berikut 4 komponen kecilnya:

  • Komponen microphone dalam gelombang suara ke sinyal listrik
  • Komponen variabel potensiometer/resistor dalam posisi ke resistensi
  • Komponen termistor dalam suhu ke resistensi, dan
  • komponen Light Dependent Resistor (LDR) dalam cahaya ke resistensi

Transducer input ini juga sering disebut dengan sensor, hal ini dikarenakan alat sensor mengubah atau mengonversikan besaran fisis menjadi besaran listrik yang dapat dimanfaatkan atau digunakan untuk berbagai macam kepentingan.

Contoh lain dari penggunaan transduser input ini adalah light dependent resistor (LDR) yang bekerja dengan cara
mengubah atau mengonversikan cahaya menjadi resistansi atau hambatan, thermistor (NTC/PTC) yang bekerja dengan mengubah atau mengonversikan suhu menjadi resistansi atau hambatan, dan variable resistor atau potensiometer yang bekerja dengan mengubah atau mengonversikan posisi menjadi resistansi atau hambatan.

4.1.2 Transducer Output

Transducer output ini merupakan salah satu jenis transduser yang dibedakan berdasarkan fungsinya.

Fungsi dari transducer ouput merupakan kebalikan dari transduser input, yaitu mengubah and mengonversikan sinyal listrik menjadi energi fisik.

Berikut 5 komponen penyusum transduser output, yaitu:

  • Komponen heater dalam listrik ke panas
  • Komponen loudspeaker dalam sinyal ke suara
  • Komponen lampu dalam listrik ke energi cahaya
  • Komponen Light Emitting Diode (LED) dalam listrik ke energi cahaya, dan
  • Komponen motor dalam listrik ke gerakan atau motion

Salah satu contoh dari penggunaan transduser output ini adalah loudspeaker yang mengubah atau mengonversikan sinyal listrik menjadi suara yang dapat didengar oleh manusia.

Transducer output ini juga sering disebut dengan actuator, hal ini dikarenakan actuator ini mengubah atau
mengonversikankan besaran listrik menjadi besaran fisis yang dapat dimanfaatkan atau digunakan untuk berbagai macam kepentingan.

Contoh lain dari penggunaan transduser output ini adalah motor yang bekerja dengan cara mengubah atau mengonversikan energi listrik menjadi energi gerak, lampu dengan cara mengubah atau mengonversikan energi listrik menjadi energi cahaya, dan televisi dengan cara mengubah atau mengonversikan energi listrik menjadi banyak energi fisik seperti cahaya, suara, dan lainnya.

4.1.3 Gabungan Transducer Input dan Output

Gabungan transduser input dan output ini merupakan salah satu jenis transduser yang dibedakan berdasarkan fungsinya.

Sesuai dengan namanya, gabungan transduser input dan output ini adalah gabungan antara transduser input dan transduser output.

Fungsi dari gabungan transduser input dan output ini adalah sensor menerima energi fisik, lalu mengubah atau mengonversikannya menjadi sinyal listrik, kemudian sinyal listrik tersebut diubah atau dikonversikan kembali menjadi energi lainnya.

Contoh dari penggunaan gabungan transduser input dan output ini adalah termometer yang bekerja dengan cara mengubah energi fisik yang berasal dari suhu tubuh manusia menjadi sinyal listrik, kemudian energi listrik tersebut diubah atau dikonversikan kembali menjadi angka dari hasil pengukuran tersebut yang akan muncul pada layar termometer.

4.2 Transducer Berdasarkan Sumber Energinya

Berdasarkan sumber energinya, transduser ini memiliki 2 macam, yaitu:

4.2.1 Self-Generating Transducer

Self-generating transduser ini merupakan salah satu jenis transducer berdasarkan sumber energinya.

Sumber energi yang digunakan self-generating transduser ini adalah hanya satu sumber yang dihasilkan sendiri.

Self-generating transduser ini berfungsi sebagai sumber tegangannya sendiri, yang artinya sumber energi lain atau catu daya (power supply) dari luar tidak lagi dibutuhkan untuk dapat beroperasi dengan baik.

Contoh dari penggunaan self-generating transduser ini adalah pada thermocouple, thermistor, piezoelektrik, fotovoltaik, dan lainnya.

4.2.2 External Power Transducer

External power transducer ini merupakan salah satu jenis transduser berdasarkan sumber energinya.

Beda dengan self-generating transducer yang dapat menghasilkan daya sendiri, sumber energi yang digunakan external power transducer ini adalah dengan memanfaatkan atau menggunakan sumber energi dari luar.

External power transducer ini dapat mengalami perubahan kondisi, seperti perubahan nilai induktansi, resistensi, dan kapasitansi.

Contoh dari penggunaan external power transducer ini adalah potensiometer, thermistor NTC, RDT, LVDT, dan lainnya.

4.3 Transducer Berdasarkan Media Transdusi & Kelistrikannya

Transducer Pasif
Parameter Listrik & Kelas TransducerPrinsip Kerja & Sifat AlatPemakaian Alat
PotensiometerPerubahan nilai tahanan karena posisi kontak bergeser
  • Tekanan
  • Pergeseran atau posisi
Strain GagePerubahan nilai tahanan yang disebabkan oleh perubahan panjang kawat oleh tekanan dari luar
  • Gaya
  • Torsi
  • Posisi
Transformator Selisih (LVDT)Tegangan selisih 2 kumparan primer karena pergeseran inti trafo
  • Tekanan
  • Gaya
  • Pergeseran
Gage Arus PusarPerubahan induktansi kumparan karena perubahan jarak plat
  • Pergeseran
  • Ketebalan
Transduser Aktif
Parameter Listrik & Kelas TransducerPrinsip Kerja & Sifat AlatPemakaian Alat
Sel FotoemisifEmisi elektron karena radiasi yang masuk ke permukaan fotomisif
  • Cahaya dan Radiasi
PhotomultiplierEmisi elektron sekunder karena radiasi yang masuk ke katoda sensitif cahaya
  • Cahaya
  • Radiasi dan relay sensitif cahaya
TermokopelPembangkitan ggl pada titik sambung dua logam yang berbeda karena dipanasi
  • Temperatur
  • Aliran panas
  • Radiasi
Generator kumparan putar / tachogeneratorPerputaran kumparan pada medan magnit yang membangkitkan tegangan
  • Kecepatan
  • Getaran
PiezoelektrikPembangkit ggl bahan kristal piezo karena gaya dari luar
  • Suara
  • Getaran
  • Percepatan
  • Tekanan
Sel foto teganganTerbangkitnya tegangan pada sel foto karena rangsangan energi dari luar
  • Cahaya matahari
Termometer tahanan (RTD)Perubahan nilai tahanan kawat karena perubahan temperatur
  • Temperatur
  • Panas
Hygrometer tahananTahanan strip konduktif berubah terhadap kandungan uap air
  • Kelembaban relatif
Termistor ( NTC)Penurunan nilai tahanan logam karena kenaikan temperatur
  • Temperatur
Microphone kapasitorTekanan suara mengubah nilai kapasitansi 2 plat
  • Suara
  • Musik
  • Derau
Pengukuran reluktansiReluktansi rangkaian magnetik diubah dengam merubah posisi inti besi kumparan
  • Tekanan
  • Pergeseran
  • Getaran
  • Posisi

Berdasarkan media transdusi, transducer ini memiliki berbagai macam, yaitu:

4.3.1 Transducer Temperatur

Ada 2 kategori transduser temperatur semikonduktor, yaitu: Transducer yang menghasilkan tegangan tertentu sesuai perubahan suhu dan transduser yang menghasilkan arus tertentu sesuai dengan perubahan suhu.

Salah satu contoh transduser temperatur ialah termistor.

Termistor atau tahanan thermal merupakan alat semikonduktor yang berkelakuan sebagai tahanan dengan koefisian tahanan temperatur yang tinggi, yang biasanya negatif.

Biasanya tahanan termistor pada temperatur ruang dapat berkurang 6% untuk tiap kenaikan temperatur sebesar 1 derajat Celcius.

Kepekaan yang tinggi terhadap perubahan temperatur tersebut membuat termistor sangat cocok untuk pengukuran, pengontrolan, dan kompensasi temperatur secara presisi.

4.3.2 Transudcer Gaya, Beban, dan Torsi

Strain gage merupakan transduser yang umum digunakan untuk mendeteksi dan mengukur beban, gaya, toris, dan tegangan.

Prinsip kerjanya ialah mengubah gaya mekanik menjadi besaran resistansi yang sebanding.

Komponen ini dibuat dari kawat tahanan tipis dengan diameter sekitar 1mm yang menggunakan campuran dari bahan “constanta” (60% Cu dan 40% Ni) atau logam campuran “479” yang terdiri dari 92% Pt dan 8% Wo.

Kawat tahanan tersebut ditempel pada papan penyangga membentuk strain gage dengan kawat berliku – liku yang dikenal dengan bonded strain gage.

Karakteristik strain gage ditentukan oleh senstivitas (S) atau gage factor (G), sensitivitas didefinisikan sebagai perbandingan antara perubahan nilai tahanan dan perubahan panjang.

4.3.3 Transducer Perbahan Posisi

Jenis transduser ini biasanya digunakna untuk mendeteksi perubahan posisi atau biasa disebut dengan Linear Paralel Differential Transformer (LVDT).

Linear Paralel Differential Transformer (LVDT) terdiri dari kumparan primer (P) dan 2 kumparan sekunder (S1 dan S2).

Bila posisi normal, inti feromagnetik berada ditengah – tengah antara 2 kumparan sekunder.

Polaritas tegangan keluaran yang dihasilkan Linear Paralel Differential Transformer (LVDT) ditentukan oleh arah gerakan inti.

4.3.4 Transducer Tekanan

Transduser tekanan dimanfaatkan untuk mengukur dan mengendalikan tekanan, seperti tekanan gas atau cairan.

Untuk mengubah tekanan jadi perubahan posisi, maka diperlukan diapragma atau kantong.

Perubahan tekanan pada kantung mengakibatkan perubahan posisi inti kumparan, jadi menyebabkan perubahan induksi magenti pada kumparan.

Salah satu manfaat dari penerapan transduser tekanan ialah untuk mengukur tinggi cairan.

Kompoenen ini digunakan untuk mengukur tekanan statis dan perbedaan tekanan.

4.3.5 Transducer Resistif

Transducer resistif ini merupakan salah satu jenis transduser berdasarkan media transdusinya.

Transducer resistif ini mempunyai resistensi yang bervariasi atau beragam.

Nilai resistansi ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan.

Contoh dari penggunaan transduser resistif ini adalah termometer sentuh yang dimana resistansi pada logam yang terdapat pada alat ukur ini dapat bereaksi atau berubah jika terjadi perubahan suhu pada objek yang sedang diukur.

4.3.6 Transducer Induktif

Transducer induktif ini merupakan salah satu jenis transducer berdasarkan media transdusinya.

Transducer induktif ini menghasilkan reaksi induktif atau elektromekanis yang dimana dapat digunakan untuk mendeteksi pergerakan fisik pada objek-objek tertentu, lalu pergerakan fisik pada objek tersebut diubah atau dikonversikan menjadi nilai dalam induktansi.

Contoh dari penggunaan transducer induktif ini adalah sensor proximity, untuk mengukur posisi, gerakan dinamis, touchpad, dan lainnya.

4.3.7 Transducer Kapasitif

Transducer kapasitif ini merupakan salah satu jenis transduser berdasarkan media transdusinya.

Transducer kapasitif ini menggunakan jumlah kapasitansi listrik untuk mengubah atau mengonversikan gerakan mekanis menjadi sinyal listrik.

Kuantitas input ini menyebabkan perubahan kapasitansi yang dapat langsung diukur oleh transduser kapasitif ini.

Transducer kapasitif ini menggunakan pengubah mekanis untuk pengubah mekanis untuk mengukur berat, kepadatan, volume, dan lainnya.

Contoh dari penggunaan transduser kapasitif ini adal adalah sebagai transduser tekanan.

4.3.8 Transducer Kelembaban

Lembab berarti kondisi yang terdiri dari uap air dan udara.

Tingkat kelembaban ditentukan oleh perbandingan antara persentase uap air di udara.

Hygrometer merupakan transduser yang menghasilkan sinyal keluaran berdasarkan pada tingkat kelembaban.

Transduser ini umumnya diklasifikasinya sebagai pyschrometer atau hygrometer.

Ada 3 tipe yang paling umum digunakan, yaitu:

  • Optik
  • Resistif, dan
  • Tipe rambut

4.3.9 Transducer Elektromagnet

Komponen sensor Hall Effect menghasilkan tegangan keluaran yang ditimbulkan karena medan maget.

Sensor ini ditemukan pada tahun 1879 oleh Edward H. Hall.

Prinsip kerjanya ialah, bila magnet diletakkan tegak lurus terhadap sepasang keping konduktor, maka tegangan akan muncul pada sisi yang berlawan.

4.3.10 Transducer Photo

Komponen photolistrik digunakan untuk menghitung, mengukur dan fungsi pengendali lain yang banyak diterapkan pada proses industri.

Contoh yang memancarkan sinar Light Emitting Devices (LED) dan menerima sinar photovaltaic cell.

4.3.10.1 Transducer Photovoltaic / Solar Cell Photochell

Transduser ini menghasilkan tegangan keluaran yang besarnya sebanding dengan intensitas cahaya.

Cell photovoltaic akan menghasilkan tegangan bila mendapat sinar.

Material dari komponen ini ialah silikon, selenium, cadmium sullphide, dan gallium arsenide.

Baca Juga: Cara Mengatur Bandwidth WiFi IndiHome

5. Prinsip Kerja Transducer

Transducer ini memiliki prinsip-prinsip kerja yang berbeda-beda.

Berikut pembahasan mengenai prinsip-prinsip kerja dari transduser.

  • Prinsip Elektromagnetik: Prinsip elektromagnetik ini mengubah atau mengonversikan besaran energi fluks
    magnetis yang kemudian mengibas suatu tegangan.
  • Prinsip Fotokonduktif: Prinsip fotokonduktif ini mengubah atau mengonversikan hantaran (konduktif) atau
    rambatan (reisistan) bahan semi konduktor yang mengenai perubahan cahaya.
  • Prinsip Fotovoltaik: Prinsip Fotovoltaik ini menggunakan besaran indra cahaya yang diubah atau
    dikonversikan menjadi tegangan antara dua bahan yang memiliki susunan berbeda.
  • Prinsip Induktif: Prinsip induktif ini mengubah atau mengonversikan besaran energi yang masuk
    dengan cara menggunakan metode perubahan induktif.
  • Prinsip Kapasitif: Prinsip kapasitif ini mengubah atau mengonversikan besaran energi yang masuk dengan cara menggunakan metode perubahan kapasitas.
  • Prinsip Piezoelektris: Prinsip piezoelektris ini mengubah atau mengonversikan besaran energi tegangan (V) dan muatan (Q) yang disebabkan oleh sejenis kristal.
  • Prinsip Potensiometer: Prinsip potensiometer ini megubah atau mengonversikan besaran energi menjadi kedudukan kontak geser pada suatu hambatan.
  • Prinsip Reluktif: Prinsip reluktif ini mengubah atau mengonversikan tegangan arus bolak-balik atau alternating current (AC) yang disebabkan oleh efek yang timbul dari lintasan reluxtan di antara dua atau lebih komponen pada saat sistem kumparan transduser mengeluarkan tegangan arus bolak-balik atau alternating current (AC).
  • Prinsip Resitif: Prinsip resitif ini mengubah atau mengonversikan besaran energi menjadi perubahan hambatan dari suatu elemen.
  • Prinsip Termoelektris: Prinsip termoelektris ini mengubah atau mengonversikan besaran suhu dengan cara kerja efek Thomson atau efek Peltier, dan efek Seeback, dan
  • Prinsip Ukur Regangan: Prinsip ukur regangan ini mengubah atau mengkonversikan besaran energi menjadi hambatan yang diakibatkan oleh adanya regangan dan terdapat dua atau empat cabang pada suatu jembatan wheatstone.

Baca Juga: Voltmeter Adalah: Simbol, 4 Komponen, dan Prinsip Kerjanya

6. Kelebihan dan Kekurangan dari Transducer

Transducer

Transducer ini tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan.

Maka dari itu berikut pembahasan mengenai kelebihan dan kekurangan dari transduser.

KelebihanKekurangan
Output listrik pada transduser dapat diatur kekuatannya sesuai dengan kebutuhannyaAlat tersebut mempunyai tingkat ketelitian tinggi, tetapi resolusi yang rendah
Transduser dapat didesain secara khusus baik ukurannya maupun bentuknya agar dapat mendapatkan hasil pengukuran yang tepat
Penggunaan transduser tidak akan menganggu proses pengukuran, hal ini dikarenakan ukuran dan bentuknya dapat didesain secara khusus sesuai kebutuhanUmur dan drift dari komponen aktif pada transduser ini dapat berpengaruh pada besaran listrik yang dihasilkan.
Dapat mencampur atau mengkondisikan sinyal yang masuk ke dalam perangkat agar mendapatkan kombinasi transduser dengan output sejenisnyaElemen sensor yang digunakan pada alat tersebut mempunyai harga yang mahal
Beberapa jenis transduser dapat dilihat, dibaca, dan direkam dengan posisi jarak yang jauh.Pengukuran presisi pada suatu alat kurang baik

Baca Juga: ADC Adalah: Tipe, Prinsip Kerja, dan 3 Tahapan Kerja

7. Pemilihan Transducer

Pemilihan transuder tergantung pada kebutuhan pemakaian dan lingkungan di sekitar pemakaian.

Oleh karena itu, dalam memilih transduser harus memperhatikal beberapa hal di bawah ini:

  • Kekuatan, proteksi atau ketahanan pada beban lebih
  • Linieritas, kemampuan untuk menghasilkan karakteristik masukan – keluaran yang linier
  • Stabilitas tinggi, kesalahan pengukuran yang kecil dan tidak terlalu terpengrauh oleh faktor – faktor lingkungan
  • Tanggapan dinamik yang baik, keluaran yang segera mengikuti masukan dengan bentuk dan besar yang sama
  • Repeatability, kemampuan untuk menghasilkan kembali keluaran yang sama saat digunakan untuk mengukur besaran yang sama dalam kondisi lingkungan yang sama, dan
  • Harga, meskipun tidak terlalu berpengaruh dengan karaktertistiknya, namun dalam penerapan di kehidupan hal ini menjadi masalah serius dan perlu dipertimbangkan

Baca Juga: Nozzle Adalah: 9 Komponen, Fungsi & Jenisnya

8. Lineritas Transducer

Lineritas merupakan sifat yang penting pada transduser.

Jika transduser linier, maka jka masukan menjadi 2x lipat, maka keluaran bisa menjadi 2x lipat juga.

Hal tersebut akan mempermudah dalam memahamai dan memanfaatkan transduser.

Ketidaklinieran dapat dibagi menjadi dua, yaitu: Ketidaklinieran yang diketahui dan yang tidak diketahui.

Ketidaklinieran yang tidak diketahui pastinya sangat menyulitkan, karena hubungan masukan dan keluarannya tidak diketahui.

Bila transduser ini dipakai sebagai alat ukur, saat masukan 2x lipat, maka keluarannya bisa menjadi 2x lipat atau 3x lipat.

Jadi, transduser semacam ini perlu diteliti untuk menghasilkan hubungan masukan dan keluaran sebelum menggunakannya.

Nah, ketidalinieran yang diketahui ialah transduser yang memiliki karakter ini masih bisa dimanfaatkan dengan mengnidari ketidaklinieran atau dengan melakukan beberapa transformasi pada rumus – rumus yang menghubungkan masukan dengan keluaran.

Contoh ketidaklinieran yang diketahui, seperti: Daerah mati, saturasi, logritmis, kuadris, dan sebaginya, berikut penjelasannya:

  • Daerah mati atau dead zone ialah saat sudah diberikan masukan, namun keluarannya belum ada. Ketika sudah melewati nilai ambang tertentu, ada keluaran yang seimbang terhadap masukan.
  • Saturasi ialah ketika masukan dibesarkan hingga nilai tertentu
  • Logaritmis ialah bila masukan bertambah besar secara lienier, maka keluarannya bertambah besar secara logaritmis, dan
  • Kuadratis ialah bila masukan bertambah besar secara linier, maka keluarannya bertambah besar secara kuadratis

Pada kondisi riil, transduser linier dalam jangkau luas sulit ditemui.

Bahkan banyak transduser yang mempunyai sifat tidak linier yang merupakan gabungan dari beberapa sifat tidak linier.

Oleh sebab itu, dibutuhkan kiat – kiat yang tepat untuk memanfaatkan fenomena itu.

Baca Juga: Valve Adalah: Bagian, Klasifikasi, 13 Macam dan Fungsinya

9. Contoh Penggunaan dari Transducer

Transduser ini sering digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari ataupun dalam industri.

Berikut pembahasan mengenai contoh penggunaan transduser baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industri.

  • Transduser Electrochemical yang digunakan pada hydrogen sensor, pH probes
  • Transduser Electroacoustic yang digunakan pada microphone, loudspeaker, earphones, ultrasonic, dan transreceiver
  • Transduser Electromagnetic yang digunakan pada antenna, magnetic cartridge, dan disk head/tape head
  • Transduser Electromechanical yang digunakan pada potensiometer, sensor, load cell, rotary motor, dan air flow
  • Transduser Thermoelectric yang digunakan pada PTC, thermocouple, dan komponen NTC, dan
  • Transduser Electro-optical yang digunakan pada LED, dioda laser, lampu pijar, dan tabung CRT.

Baca Juga: Cara Daftar dan Cek Penerima Online BST Kemensos

10. Contoh Pengaplikasian Tranducer Pada Perangkat Elektronik

Transducer

Seperti yang telah dijelaskan di atas, transduser merupakan komponen yang paling umum dipakai pada berbagai piranti elektronik.

Adapun contoh pengaplikasiannya di perangkat eleltronik yang biasa dijumpai, yaitu:

  • Loudspeaker, sinyal listrik dikonversikan menjadi energi suara
  • LDR, energi cahaya dikonversikan oleh transduser menjadi sinyal listrik
  • Lampu, energi listrik dikonversikan menjadi energi cahaya
  • Motor, transduser dipakai untuk mengubah energi listrik menjadi energi gerak
  • Microphone, transduser berperan untuk mengubah energi listrik menjadi suara, dan
  • Thermistor, transduser berfungsi untuk mengkonversi suhu menjadi sinyal listik ke bentuk hambatan atau resitansi

Baca Juga: Cara Cek dan Daftar DTKS Online Lewat HP di Kemensos.Go.Id Terbaru

Kesimpulan

Transduser berasal dari kata “traducere” yang dalam bahasa latin berarti “Mengubah”.

Menurut William D.C (1993), transduser ialah alat yang bila digerakkan oleh energi dalam sistem transmisi, maka akan menyalurkan energi tersebut dalam bentuk yang berlainan atau sama ke sistem transmisi berikutnya.

Klasifikasi transduser menurut daya yang diperlukan ialah: Self Generating Transducer dan External Power Transducer.

Sedangkan, klasifikasi transduser menurut bentuk energinya, ialah: Input dan Output.

Klasifikasi transduser menurut aktivitasnya, yaitu: Pasif dan Aktif.

Semoga artikel pembahasan transduser ini membantumu dalam menambah wawasan, yuk baca artikel menarik lainnya di carakami.com!

Orang juga bertanya

Fiana is an Europeanist, freelance writer, and write SEO friendly content.

Tinggalkan komentar