close button

Penyebab Resistor Panas Berlebihan, Cara Mencegah dan Mengatasinya

  •   Sep 2022  •   10 min read  •   Comment

Resistor merupakan salah satu komponen yang berfungsi untuk menghambat arus listrik.

Dengan nilai hambatan sebuah Resistor dinyatakan dalam satuan Ohm (Ω). Setiap rangkaian baik simple ataupun yang lebih kompleks sering membutuhkan Resistor untuk mendukung kerja.

Jika diperhatikan, saat bekerja suhu Resistor sering menjadi meningkat. Panas yang berlebih bisa berisiko membuat komponen tersebut terbakar (overheating) dan merusaknya.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mencegah overheating pada Resistor.

Nah, untuk mengetahui lebih jelas lagi simak bahasan Penyebab Resistor Panas Berlebihan berikut.

Mengapa Resistor Bisa Menjadi Panas?

Untuk mengetahui alasan memanasnya Resistor, kamu harus memahami dulu tentang apa itu arus listrik.

Arus listrik seperti aliran air yang mengalir melalui media rambatnya.

Perbedaannya yang mengalir adalah elektron-elektron.

Tentu saja kamu tahu ada bahan konduktor dan isolator, dimana konduktor yaitu jenis bahan yang dapat mengahantarkan listrik dengan baik, karena elektron bisa bergerak dengan bebas melalui bahan tersebut.

Sedangkan isolator sebaliknya, hanya merupakan penghantar listrik yang buruk.

Baca juga: Fungsi Fuse Pada Kelistrikan Yakni Untuk Apa ? Ini Jawaban Lengkap

Nah, sementara Resistor yaitu komponen yang bersifat semikonduktor. Meski fungsi utamanya yaitu untuk menghambat arus, namun Resistor juga perlu melewatkan arus ke rangkaian selanjutnya.

Hasilnya, Resistor dibuat dengan melilitkan bahan konduktor ke isolator.

Jika diperhatikan lebih teliti bagaimana elektron mengalir pada konduktor, kamu akan lihat elektron-elektron tersebut bertabrakan atau berinteraksi dengan partikel logam yang menyusun sebuah bahan konduktor.

Tabrakan ini membuat elektron kehilangan energi kinetik dan melepaskan energi tersebut dalam bentuk panas.

Semakin besar arus listrik yang dialirkan pada sebuah Resistor, maka semakin banyak pula elektron yang mengalir di dalam konduktor.

Hasilnya semakin banyak juga energi panas yang dilepaskan, sehingga menaikkan suhu Resistor itu sendiri.

Tingkatan Panas pada Resistor

Ketika arus listrik mengalir ke Resistor, suhu komponen akan berubah dengan beberapa macam kondisi, yaitu sebagai berikut:

1. Kondisi Suhu Normal

Jika arus yang mengalir ke Resistor ada di bawah kapasitas maksimumnya, maka kondisi temperatur dari komponen ini akan berada di suhu normal.

Kamu tidak akan merasakan hangat saat memegang Resistor karena tidak ada kenaikan temperatur terjadi. Kondisi ini adalah kondisi terbaik Resistor ketika dialiri arus.

2. Kondisi Suhu Hangat Normal

Ada keadaan dimana Resistor akan terasa hangat saat kamu pegang namun masih dalam taraf normal.

Keadaan ini biasanya terjadi saat besaran arus yang mengalir ke komponen tersebut sudah mendekati arus maksimumnya.

Dalam kondisi ini, Resistor masih bisa berfungsi dengan baik.

3. Kondisi Suhu Panas

Ketika arus yang mengalir ke Resistor sudah di atas kapasitas maksimumnya, maka suhu Resistor menjadi terasa panas saat dipegang.

Saat ada pada kondisi ini, maka disarankan untuk menghentikan sumber daya listrik yang mengarah ke Resistor.

Karena jika diteruskan akan membuat Resistor menjadi terbakar.

Baca juga: Fungsi Variable Resistor : Pengertian, Cara Kerja, Fungsi, dan Jenis

4. Kondisi Panas Berlebih (Overheating)

Dan kondisi ini yang terjadi jika arus yang mengalir di atas kapasitas maksimum Resistor dibiarkan terus mengalir.

Suhu di komponen tersebut akan sangat panas sehingga dapat merusak dan membuat Resistor hangus terbakar.

Dimana maksimum suhu operasional untuk Resistor yang terbuat dari karbon adalah sekitara 100-120°C, dan untuk yang berbahan metal atau oxide film berada di sekitar 150°C.

Resistor yang terdiri dari gulungan kawat di dalamnya dapat beroperasi di temperatur cukup tinggi, hingga sekitar 300°C.

Bagaimana Mencegah Resistor Overheating?

Penyebab Resistor Panas Berlebihan dan Cara Mencegah dan Mengatasinya

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai tindakan pencegahan agar masalah kelebihan suhu pada Resistor tidak terjadi, berikut ini beberapa diantaranya:

1. Menggunakan Heat Sink

Heat Sink yaitu sebuah komponen yang didesain untuk menyerap panas dari suatu komponen elektronika, termasuk Resistor.

2. Memasang Shun Resistor Pada Rangkaian

Shun Resistor yaitu Resistor yang dipasang sescara paralel pada titik beban arus yang berat untuk mencegah kelebihan beban di sana.

3. Pasang Resistor Yang Punya Nilai Resistansi Sesuai

Kamu bisa menghitung dahulu berapa ohm kira-kira Resistor yang dibutuhkan untuk rangkaian yang sedang dikerjakan.

Jika nilai Resistor terlalu kecil sedangkan beban arus besar, maka bisa dipastikan overheating bisa terjadi.

4. Uji Rangkaian Di Simulator

Sebelum merangkai dan menguji rangkaian di proto board, maka ciba menggunakan aplikasi simulator seperti LiveWire, EWB dan lainnya.

Dengan demikian kamu akan tahu bahwa setiap komponen bisa bekerja dengan baik atau tidak sebelum kamu mulai merangkainya.

5. Gunakan Jenis Resistor Yang Tahan Panas

Seperti yang sudah disampaikan di atas, setiap jenis Resistor memiliki nilai suhu maksimumnya masing-masing.

Sehingga kamu bisa memilih memakai Resistor wirewound yang nilai maksimumnya hingga 300°C, sehingga mengurangi risiko overheating akan terjadi.

Baca juga: Cara Kerja Resistor : Pengertian, Fungsi, dan Cara Kerja

Apa Yang Terjadi Pada Resistor Jika Terlalu Panas?

Penyebab Resistor Panas Berlebihan dan Cara Mencegah dan Mengatasinya

Dalam rangkaian listrik dan elektronik apa pun, komponen dan perangkat yang terlalu panas tidak diinginkan. Hal yang sama berlaku juga untuk Resistor.

Ada beberapa hal yang bisa terjadi pada Resistor jika terlalu panas.

Hal pertama yang bisa terjadi jika Resistor menjadi terlalu panas adalah resistansinya dapat berubah.

Ketika menggunakan Resistor, ada parameter penting yang dikenal sebagai Koefisien Suhu Resistansi (atau TCR).

TCR menunjukkan  perubahan resistansi untuk bahan tertentu (seperti konduktor) per derajat perubahan suhu.

Setiap bahan memiliki nilai TCR sendiri.

Resistansi meningkat, dengan meningkatnya suhu terlepas dari bahan dan panjang dan luas Resistor (hanya, beberapa Resistor lebih tahan terhadap perubahan suhu daripada yang lain).

Ini terjadi karena atom-atom di dalam bahan menjadi tereksitasi ketika suhu meningkat.

Hal ini menyebabkan atom bergerak lebih cepat, membuat elektron lebih sulit untuk melaluinya.

TCR Resistor sering dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Tapi, jika Resistor ditempatkan di dalam area tertutup, panas yang dilepaskan oleh Resistor karena terlalu panas dapat meningkatkan suhu sekitar, sehingga meningkatkan resistansinya.

Hal utama berikutnya yang bisa terjadi yaitu Resistor bisa rusak.

Sebuah Resistor dibuat memakai bahan tertentu yang memberikan Resistor bisa berfungsi.

Hanya, bahan-bahan ini mampu bekerja pada kisaran suhu tertentu.

Melebihi suhu akan merusak bahan Resistor di dalam dan di luar body Resistor.

Cara Agar Resistor Tidak Panas

Kamu tahu jika Resistor menjadi terlalu panas jika terlalu banyak daya yang disuplai ke Resistor daya lebih tinggi dari nilai maksimumnya.

Salah satu cara mudah untuk menghentikan Resistor memanas yaitu dengan membatasi jumlah daya yang dikenakannya.

Untuk membatasi daya ke Resistor, maka dapat mengurangi tegangan atau arus.

Cara lain agar Resistor tidak panas yaitu dengan menggunakan Heat Sink atau Fan.

Baca juga: Dioda 4148 Berapa Volt ? Fungsi, Cara Kerja dan Karakteristik

Cara Menguji Resistor

Resistor berfungsi mengatur jumlah arus yang mengalir pada rangkaian listrik.

Resistor menghasilkan tahanan, atau impedansi, pada rangkaian listrik dan mengurangi jumlah arus yang akan mengalir.

Resistor juga dipakai untuk pengondisian sinyal sederhana dan untuk melindungi perangkat listrik aktif yang bisa rusak karena menerima arus berlebihan.

Untuk melakukan semua fungsi ini, tentu Resistor harus diukur dengan benar dan kondisinya utuh.

Pakailah cara  berikut ini untuk mengetahui cara menguji Resistor.

  1. Hapus daya dari rangkaian yang mengandung Resistor. Langkah ini bisa dicoba dengan mencabutnya dari sumber daya utama atau dengan lepas baterainya jika rangkaian merupakan alat portabel. Dimana, ada beberapa alat yang tetap mengandung tegangan yang berpotensi merusak sampai beberapa menit setelah dayanya hilang!
  2. Isolasi Resistor dari rangkaian. Pengukuran Resistor yang masih terhubung dengan rangkaian bisa memberikan hasil perhitungan yang tidak tepat, karena sebagian dari rangkaian mungkin juga ikut terukur.
  3. Lepaskan salah satu ujung Resistor dari rangkaian. Tidak penting ujung mana yang akan dilepaskan. Lepaskan dengan menarik Resistor. Jika Resistor sudah dipatri, maka lelehkan dengan alat patri listrik dan tarik Resistor memakai tang kecil. Alat patri tersedia di toko peralatan listrik.
  4. Periksa Resistor. Jika Resistor menunjukkan tanda-tanda menghitam atau hangus, bisa jadi Resistor tersebut sudah rusak karena arus berlebihan. Resistor yang terlihat menghitam atau hangus harus diganti dan dibuang.
  5. Bacalah nilai Resistor secara visual. Nilainya akan tercantum pada Resistor. Resistor yang lebih kecil akan mencantumkan nilai yang ditandai dengan pita kode warna.
  6. Perhatikan toleransi Resistor. Tidak ada Resistor yang nilainya sama persis dengan yang tertera. Toleransi menandakan seberapa besar nilai yang tercantum dapat bervariasi dan tetap dianggap sebagai Resistor yang nilainya sesuai. Contohnya, Resistor 1.000 ohm dengan toleransi 10 persen tetap dianggap akurat jika menghasilkan pengukuran tidak kurang dari 900 ohm dan tidak lebih dari 1.100 ohm.
  7. Siapkan multimeter digital (DMM) untuk mengukur Resistor. DMM tersedia di toko peralatan listrik.
  8. Pastikan jika DMM menyala dan kondisi baterainya tidak lemah.
  9. Atur skala DMM pada pengaturan dan yang lebih tinggi dari nilai Resistor perkiraan. Contohnya, jika DMM bisa diatur dengan skala perkalian 10 dan yang akan diukur adalah Resistor bertanda 840 ohm, atur DMM pada skala 1.000 ohm.
  10. Ukurlah hambatannya. Hubungkan 2 penyidik DMM pada 2 kaki Resistor. Resistor tidak memiliki polaritas. Sehingga, tidak penting penyidik DMM mana yang terhubung dengan kaki Resistor mana.
  11. Tentukan nilai hambatan aktual dari Resistor. Bacalah hasilnya yang ditunjukkan pada multimeter. Untuk menentukan apakah Resistor berada dalam rentang yang diperbolehkan untuk Resistor tersebut atau tidak, jangan lupa perhitungkan nilai toleransi Resistor.
  12. Pasang lagi Resistor yang menghasilkan pembacaan akurat. Hubungkan lagi Resistor pada rangkaian dengan memasangkannya lagi ke tempat semula jika menariknya dengan jari. Jika sambungan patri harus dilelehkan dan Resistor harus dicabut menggunakan tang, maka lelehkan dengan alat patri dan gunakan tang untuk memasangkannya lagi ke tempat semula.
  13. Ganti Resistor yang memberikan hasil pengukuran di luar rentang nilai yang diperbolehkan. Buang Resistor lama. Perhatikan saat mengganti Resistor yang tidak berfungsi tidak selalu menyelesaikan masalah, jika Resistor rusak lagi, sumber masalahnya harus dicari di tempat lain di dalam rangkaian.

Tujuan Dipasangnya Resistor

Beberapa tujuan dipasangnya komponen ini yaitu sebagai berikut

1. Untuk Menghambat arus

Resistor untuk mendapatkan sejumlah tertentu arus yg dikehendaki.

Apabila pada sumber tegangannya tidak tersedia opsi pengaturan untuk memperkecil tegangan atau arus.

Contohnya sebuah lampu sangat terang dipasang pada batere 9 Volt.

Saat komponen ini diikutsertakan sebesar 4,5 Ohm maka nyala lampu yg tadinya sangat terang akan berkurang meredup separuhnya.

2. Resistor Dipasang Seri

Tujuan pemasangan Resistor seri yaitu untuk mendapatkan jumlah total dari masing-masing tahanan.

Perancangan seperti ini dilakukan jika tidak tersedianya harga nilai Resistor yg pas.

Apabi;a terdapat masing-masing Resistor 5 Ohm dipasang seri maka nilai dari persamaan kedua Resistor akan menjadi 10 Ohm.

Karena tidak semua angka dari 1 sampai 1000 Ohm bisa tersedia di produksi.

Sama seperti tujuan dipasang seri. Sebuah Resistor yg dipasang paralel akan mendapatkan nilai yg lebih kecil diantara masing-masing Resistor adalah satu per total Resistor paralel.

Jika terdapat 2 Resistor masing-masing 5 ohm di sebuah rangkaian maka nilai resistansi pengganti adalah 2,5 ohm. Dengan memnilai bedakan angka Resistor akan didapatkan nilai yg diinginkan.

3. Memberikan Tegangan Bias

Jika sebuah arus yg mengalir tanpa hambatan maka artinya hubung singkat.

Kondisi rangkaian yg terhubung singkat jelas tidak memberikan manfaat atau untuk digunakan.

Untuk itulah butuh peran Resistor.

Seringnya dipakai bersamaan dengan sebuah transistor untuk memberikan tegangan bias alat tersebut agar sebuah transistor tidak dalam kondisi hubung singkat.

Karena biasanya sebuah transistor hanya butuh tegangan sebesar nol koma sekian volt untuk beroperasi.

4. Dipasang Sebelum Kapasitor

Pemasangan Resistor sebelum kapasitor bertujuan untuk membatasi atau memberikan jeda waktu pengisian muatan oleh kapasitor.

Kadang sebuah rangkaian butuh sejumlah waktu tertentu agar kapasitor bisa terisi dan membuang muatan. Aplikasinya seperti pada rangkaian timer digital.

Kerusakan Resistor bisa diketahui dengan melihat kondisi komponen dan diukur langsung menggunakan Ohm meter yg biasanya sudah 1 paket dengan multitester.

Jika mendapati sebuah Resistor yang pada body nya menghitam akibat hangus.

Walau rangkaian belum sepenuhnya rusak ada baiknya unit Resistor yang terbakar tersebut untuk diganti.

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas jika penyebab terjadinya panas pada Resistor karena Resistor bekerja pada tegangan berlebih.

Saat Resistor menjadi panas hal ini akan menyebabkan nilai resistansinya berubah dan Resistor akan terbakar.

Mencegah Resistor agar tidak panas yang dapat dilakukan yaitu dengan membatasi daya Resistor, menggunakan Heat Sink dan Fan.

Demikianlah penjelasan mengenai Penyebab Resistor Panas Berlebihan dan cara mengatasinya. Semoga bermanfaat.

Orang juga bertanya

English private teacher, seo writter, english translator, and content writer.

Tinggalkan komentar